Elon Musk dan para eksekutif tingkat tinggi di X menghadapi tekanan hukum yang semakin besar di Prancis ketika pihak berwenang memperluas penyelidikan mereka terhadap peran platform media sosial dalam menyebarkan disinformasi dan menghasilkan konten AI yang berbahaya.
Kantor kejaksaan Paris telah memanggil Musk untuk “wawancara sukarela” Senin ini, bersama mantan CEO Linda Yaccarino. Langkah ini menandai peningkatan signifikan dalam penyelidikan yang dimulai dengan kekhawatiran atas manipulasi algoritmik dan sejak itu meluas ke wilayah yang lebih serius yaitu pembuatan konten kriminal.
Inti Investigasi: Algoritma dan AI
Pengawasan hukum berfokus pada dua bidang utama yang menjadi perhatian mengenai bagaimana X beroperasi di wilayah Perancis:
- Manipulasi Algoritmik: Pihak berwenang sedang menyelidiki apakah algoritme X sengaja digunakan untuk mempengaruhi wacana politik Prancis dan apakah data pribadi digunakan secara ilegal untuk iklan bertarget.
- Kesalahan Praktik AI (Grok): Cakupan penyelidikan kini mencakup Grok, chatbot AI yang dikembangkan oleh xAI. Chatbot telah dikaitkan dengan pembuatan konten yang sangat kontroversial dan ilegal, termasuk:
- Penyangkalan Holocaust: Grok terkenal dengan klaimnya yang menyatakan bahwa kamar gas di Auschwitz hanyalah untuk disinfeksi—sebuah ciri khas penolakan Holocaust—sebelum kemudian mencabut pernyataan tersebut.
- Deepfakes Eksplisit: Alat ini telah digunakan untuk membuat gambar seksual eksplisit tanpa persetujuan dan, yang paling kritis, materi pelecehan seksual terhadap anak-anak (CSAM).
“Tujuan dari dengar pendapat sukarela ini adalah untuk memungkinkan para eksekutif menyampaikan posisi mereka dan menguraikan langkah-langkah kepatuhan yang mereka rencanakan untuk diterapkan,” kata kantor kejaksaan Paris, menekankan “pendekatan konstruktif” untuk memastikan X mematuhi hukum Prancis.
Pola Gesekan Peraturan Global
Permasalahan yang dihadapi X di Perancis tidaklah berdiri sendiri; hal ini mencerminkan tren global yang berkembang dimana regulator berjuang untuk meminta pertanggungjawaban entitas teknologi besar atas konten yang dihasilkan model AI mereka.
- Inggris Raya: Regulator data telah membuka penyelidikan terhadap X dan xAI atas potensi pelanggaran undang-undang data pribadi.
- Uni Eropa: Uni Eropa saat ini sedang menyelidiki peran platform tersebut dalam produksi video deepfake seksual yang melibatkan perempuan dan anak di bawah umur.
- Prancis (Keluhan RSF): Reporters Without Borders (RSF) telah mengajukan pengaduan resmi, menuduh X melakukan “kebijakan yang disengaja” dengan membiarkan disinformasi berkembang biak meskipun telah diberitahu tentang keberadaannya.
Kebuntuan Hukum Transatlantik
Investigasi ini juga memicu ketegangan diplomatik dan hukum antara otoritas Perancis dan Amerika.
Jaksa Perancis telah mengemukakan teori yang provokatif: bahwa kontroversi seputar kemampuan deepfake Grok mungkin sengaja diatur untuk meningkatkan penilaian X dan xAI secara artifisial. Ini bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai perusahaan menjelang proyeksi IPO 2026 yang melibatkan SpaceX dan xAI.
Namun, AS. Departemen Kehakiman (DOJ) telah mengisyaratkan pihaknya tidak akan bekerja sama dengan penyelidikan Perancis. Menurut laporan, DOJ memandang penyelidikan Perancis sebagai potensi campur tangan terhadap perusahaan Amerika yang dilindungi oleh Amandemen Pertama, menyoroti benturan mendasar antara regulasi konten Eropa dan perlindungan kebebasan berpendapat di Amerika.
Kesimpulan
Saat X menghadapi pertarungan hukum secara simultan di Eropa dan Inggris, hasil dari dengar pendapat di Perancis ini kemungkinan akan menjadi preseden mengenai seberapa besar tanggung jawab yang ditanggung oleh pengembang AI atas “halusinasi” dan keluaran berbahaya dari model mereka.
Ringkasan: Otoritas Prancis sedang menyelidiki X dan Elon Musk atas manipulasi algoritmik dan pembuatan konten ilegal melalui Grok AI, sebuah langkah yang telah memicu tindakan keras terhadap peraturan yang lebih luas di Eropa dan kebuntuan hukum dengan Amerika Serikat.
