Lanskap laptop Windows sedang mengalami perubahan dramatis. Pada Consumer Electronics Show (CES) 2026 baru-baru ini, para produsen meluncurkan serangkaian perangkat yang sangat tipis dan ringan – menandakan tren yang jelas menuju ultra-ultraportabilitas. Apa yang dulunya merupakan penawaran khusus, seperti yang dicontohkan oleh Asus Zenbook A14 seberat 2,18 pon, kini menjadi mainstream. Pergeseran ini bukan hanya soal estetika; hal ini mencerminkan meningkatnya permintaan akan perangkat yang terintegrasi dengan gaya hidup mobile, mendorong batasan-batasan yang ada dalam hal masa pakai baterai dan kinerja.
Standar Baru: 2,2 Pound ke Bawah
Tren ini ditentukan oleh sasis magnesium alloy premium, layar OLED resolusi tinggi, dan bobot sekitar 2,2 pon. Hal ini bahkan membuat Apple MacBook Air, yang sebelumnya dianggap sebagai tolok ukur portabilitas dengan berat 2,7 pon, terasa relatif besar. Berbagai produsen, termasuk Asus, Acer, HP, dan Lenovo, kini bersaing di bidang ini. Perlombaan untuk menjadi yang paling ringan bukan hanya tentang hak untuk menyombongkan diri; hal ini mendorong inovasi dalam ilmu material, manajemen termal, dan teknologi baterai.
Mendukung Pergeseran: Chip dan Masa Pakai Baterai
Laptop ultra-tipis ini ditenagai oleh chip Intel Ultra Core Series 3 baru (menawarkan kompatibilitas aplikasi yang lebih luas) atau seri Snapdragon X2 Qualcomm. Kuncinya adalah efisiensi baterai: banyak model menjanjikan 27+ jam dengan sekali pengisian daya, dengan Asus Zenbook A14 mengklaim hingga 35 jam dengan chip Snapdragon X2 terbaru. Masa pakai baterai yang lama ini merupakan respons langsung terhadap permintaan pengguna akan kinerja sepanjang hari tanpa harus terhubung ke stopkontak.
Model Utama yang Memimpin Tantangan
Beberapa perangkat terkemuka mendorong tren ini:
- Acer Swift Edge 14 AI : Menggabungkan sasis paduan baja tahan karat-magnesium dengan prosesor Intel Core Ultra 9, laptop ini berbobot hanya 2,18 pon dan memenuhi standar ketahanan tingkat militer.
- Asus ExpertBook Ultra : Dapat dikonfigurasi dengan chip Intel Core Ultra X9 kelas atas, laptop yang berfokus pada bisnis ini menawarkan layar OLED 3K dan touchpad haptic inovatif, semuanya dalam paket seberat 2,18 pon.
- Asus Zenbook A14 (dan A16) : Zenbook A14 yang diperbarui dilengkapi chip Snapdragon X2 Elite baru dengan pemrosesan AI yang ditingkatkan, masa pakai baterai hingga 35 jam, dan desain yang disempurnakan. A16 memperluas jajarannya dengan layar sentuh OLED 3K 120Hz yang lebih besar, dan berbobot hanya 2,65 pon.
- HP EliteBook X G2i : Model Intel ringan bergaya clamshell dengan sasis magnesium Atmospheric Blue, dengan berat hanya 2,2 pon.
- HP OmniBook Ultra 14 : Laptop tertipis yang dipamerkan di CES 2026, hanya berukuran 7,4 milimeter di tepi depannya. Meskipun sedikit lebih berat dengan berat 2,81 pon, kelangsingannya yang ekstrim membedakannya.
- Lenovo Yoga Slim 7i Ultra Aura Edition : Dengan berat hanya 2,15 pon dan memiliki layar POLED 2,8K 120Hz, laptop ini adalah yang paling ringan yang ditemui di CES, dengan perkiraan harga mulai $1,649.
Tantangannya: Biaya dan Ketersediaan
Meskipun ada kemajuan, calon pembeli menghadapi tantangan. Kekurangan RAM yang sedang berlangsung diperkirakan akan menaikkan biaya, sehingga membuat perangkat premium ini semakin sulit diakses. Harga dan tanggal rilis untuk banyak model masih belum pasti, membuat konsumen harus menunggu.
Tren laptop Windows ultra-ultraportable bukan hanya tentang perangkat yang lebih tipis; ini tentang perubahan mendasar dalam cara kita mendekati komputasi seluler. Dengan memprioritaskan bobot yang ringan, masa pakai baterai, dan performa, produsen mengubah pengalaman laptop untuk generasi yang menghargai kebebasan dan fleksibilitas.






























