Kehidupan Di Bawah Kebakaran: Di Dalam Iran Saat Perang Memasuki Minggu Keempat

14

Konflik di Iran telah memasuki minggu keempat dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Pentagon meminta dana sebesar $200 miliar untuk mempertahankan operasi tersebut, yang mengganggu stabilitas ekonomi global sementara serangan udara meningkat di kota-kota padat penduduk di Iran. Artikel ini berfokus pada pengalaman hidup di Iran – sebuah perspektif yang sering dikaburkan oleh pemadaman media dan meningkatnya kekerasan.

Negara yang Dikepung

Sejak serangan dimulai, Iran hampir mengalami pemadaman internet total, sehingga hampir tidak mungkin melaporkan secara akurat dari dalam negeri. Namun, jaringan warga Iran dan kelompok diaspora berbagi pengalaman yang memberikan gambaran suram tentang kehidupan sehari-hari di bawah pemboman dan penindasan politik.

Roya Rastegar, produser dan salah satu pendiri Kolektif Diaspora Iran, adalah salah satu dari sedikit tokoh yang memberikan wawasan mengenai situasi ini. Sumber-sumbernya di lapangan melaporkan kenyataan yang brutal: komunikasi terfragmentasi, tidak stabil, dan dikontrol secara aktif oleh rezim. Pemadaman listrik ini bukanlah kegagalan teknis, namun merupakan alat politik yang disengaja untuk mengisolasi 90 juta warga Iran dari dunia luar.

“Pesan-pesan datang secara tiba-tiba, tidak dapat diandalkan,” jelas Rastegar. “Orang-orang menggunakan VPN melalui teman dari teman, mengirimkan catatan suara sebelum offline lagi. Panggilan dipantau. Ketakutan membatasi setiap percakapan.”

Ini bukan hanya tentang bahaya fisik; ini tentang pengepungan informasi. Iran kekurangan data real-time mengenai serangan, jumlah korban, atau bahkan keakuratan propaganda negara. Permintaan dari dalam negeri sederhana saja: pulihkan internet. Pemadaman listrik mengisolasi orang secara psikologis dan fisik.

Kehidupan Sehari-hari di Zona Perang

Meskipun konflik terus berlangsung, kehidupan terus berjalan dalam bentuk yang terpecah-belah. Orang-orang berusaha untuk bekerja, belajar, dan merawat keluarga mereka di bawah pemboman dan pengawasan terus-menerus. Kebutuhan dasar semakin langka, dengan adanya penjatahan bensin dan meluasnya penutupan usaha. Bahkan mereka yang sebelumnya merupakan kelas menengah kini kesulitan untuk membeli kebutuhan pokok.

Malam hari sangatlah brutal: ledakan, pesawat terbang di atas kepala, dan antisipasi serangan yang selalu terjadi mengganggu tidur. Orang-orang lari ke jendela atau atap rumah jika mendengar suara apa pun, tidak yakin apakah itu mogok kerja atau sekadar aksi teror.

Jalanan di Teheran sepi. Toko roti tetap buka tetapi kosong. Aparat keamanan rezim – termasuk petugas Basij yang berpakaian preman – secara agresif menghentikan warga, memeriksa telepon dan melakukan penangkapan. Banyak warga Iran kini lebih takut akan kebrutalan rezim ini dibandingkan serangan udara itu sendiri.

Rezim yang Sudah Lama Berperang dengan Rakyatnya Sendiri

Konflik ini bukanlah hal baru bagi Iran. Rezim ini telah melakukan perang sepihak terhadap rakyatnya sendiri selama 47 tahun, dan secara tidak proporsional menyasar perempuan, kelompok minoritas, dan masyarakat miskin. Beberapa warga melaporkan merasa cemas ketika pemogokan berhenti, karena alternatifnya—keberlangsungan Republik Islam—bahkan lebih mengerikan.

“Rezim kehilangan legitimasinya ketika mereka membantai puluhan ribu orang,” kata Rastegar. “Rakyat Iran menjadi begitu putus asa sehingga mereka melihat intervensi luar sebagai satu-satunya jalan yang tersisa.”

Perubahan Suasana Hati di Iran

Reaksi awal terhadap intervensi luar beragam, dan ada yang berharap rezim akan jatuh. Namun, suasana memburuk setelah jatuhnya korban sipil, termasuk serangan terhadap sekolah perempuan yang menewaskan 168 orang. Kini, banyak yang kelelahan, berduka, dan terjebak dalam ketidakpastian.

Meskipun demikian, masyarakat Iran menolak untuk diam. Bahkan ketika menghadapi kekerasan yang dilakukan negara, warga terus melakukan protes dan perlawanan. Salah satu contoh baru-baru ini adalah pembangkangan yang ditunjukkan dalam Chaharshanbe Suri, sebuah ritual api kuno di mana orang-orang melompati api di jalanan meskipun ada ancaman dari rezim.

Masa Depan Masih Belum Jelas

Pertanyaannya sekarang adalah apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun tidak ada konsensus mengenai pengganti rezim saat ini, dewan transisi yang terdiri dari para pemimpin yang tidak disebutkan namanya dilaporkan telah melakukan kontak dengan PBB. Shirin Ebadi, seorang peraih Nobel, ditunjuk sebagai ketua Komite Keadilan Transisi, dan tokoh-tokoh seperti Reza Pahlavi menganjurkan transisi demokratis.

Sementara itu, kru film dokumenter sedang bekerja dengan enam penari muda Iran yang menolak berhenti syuting meskipun ada risikonya. Penentangan mereka mencerminkan sentimen yang lebih besar: rakyat Iran tidak hanya ingin bertahan hidup; mereka ingin menegaskan kehidupan, keindahan, dan hak pilihan dalam menghadapi pemusnahan.

Situasi di Iran masih bergejolak. Masa depan negara ini bergantung pada apakah rezim tersebut akan jatuh, dan jika demikian, apa yang akan menggantikannya. Saat ini, jutaan orang hidup dalam kepungan, terjebak di antara bom, pengawasan, dan harapan yang putus asa akan hari esok yang lebih baik.