Eropa Menghalangi Trump Melakukan Akuisisi Greenland

17

Kebuntuan baru-baru ini mengenai Greenland, yang diprakarsai oleh pernyataan minat mantan Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi wilayah tersebut, tampaknya telah mereda berkat tanggapan tegas dari para pemimpin Eropa, meskipun sebagian besar tidak terucapkan. Meskipun Trump pada awalnya meningkatkan retorikanya dengan ancaman tarif dan bahkan mengisyaratkan pembubaran NATO jika tuntutannya tidak dipenuhi, ia akhirnya mundur setelah berdiskusi di Forum Ekonomi Dunia di Davos. Hasil ini bukan suatu kebetulan; Hal ini merupakan akibat langsung dari sinyal kesediaan Eropa untuk membalas, yang secara efektif menghalangi agresi lebih lanjut.

Logika Pencegahan

Situasi ini menyoroti prinsip inti hubungan internasional yang dikenal sebagai teori pencegahan. Konsep ini, yang lahir dari era nuklir dan Perang Dingin, bertumpu pada gagasan bahwa calon agresor dapat dibujuk dengan membuat biaya tindakan menjadi terlalu tinggi. Seperti yang dijelaskan oleh profesor Universitas Johns Hopkins, Henry Farrell, hal ini tidak selalu memerlukan ancaman yang terang-terangan; cukup meyakinkan musuh bahwa eskalasi akan menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan saja sudah cukup.

Contoh sejarah mengenai pasukan AS yang ditempatkan di Berlin Barat selama Perang Dingin menggambarkan prinsip ini secara brutal. Meskipun tentara-tentara tersebut tidak dapat mempertahankan kota secara efektif, kehadiran mereka menimbulkan risiko yang sudah diperhitungkan: serangan terhadap Berlin akan mengakibatkan korban jiwa yang tidak akan diterima oleh presiden AS, dan berpotensi meningkat menjadi konflik nuklir.

Respons Eropa yang Halus namun Efektif

Dalam kasus Greenland, Eropa tidak perlu mengerahkan senjata nuklir atau bahkan mengeluarkan ultimatum secara eksplisit. Sebaliknya, delapan negara Eropa melakukan latihan militer skala kecil di pulau tersebut, yang secara efektif membentuk “kawat penghubung”. Artinya, setiap invasi AS akan segera memicu respons dari banyak sekutu NATO, sehingga meningkatkan risiko bagi Trump.

Yang lebih memperkuat pencegahan ini adalah instrumen anti-paksaan Uni Eropa – sebuah mekanisme hukum yang didefinisikan secara samar-samar yang memungkinkan UE untuk membalas tekanan ekonomi melalui tindakan seperti pembatasan investasi atau penyitaan kekayaan intelektual. Meskipun tidak pernah disebutkan secara eksplisit, keberadaannya menandakan kesediaan Eropa untuk melakukan eskalasi jika diprovokasi.

Kemunduran Trump dan Kekuatan Ancaman yang Kredibel

Pergeseran sikap Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelum dan sesudah diskusi di Davos cukup menjelaskan hal ini. Awalnya meremehkan potensi respons Eropa, Bessent kemudian memohon kepada para pemimpin Eropa untuk tidak melakukan eskalasi, dan menyatakan bahwa percakapan di balik layar telah membuat ancaman tersebut dapat dipercaya.

Pada akhirnya, Trump menggambarkan hasil ini sebagai sebuah kemenangan, namun kenyataannya adalah sebuah demonstrasi nyata mengenai kemampuan Eropa untuk melawan tekanan AS. Kemungkinan besar dampaknya adalah tercapainya kesepakatan mengenai keamanan Arktik, yang memungkinkan Trump mengklaim keberhasilan sambil menghindari konfrontasi yang memakan banyak biaya.

Peristiwa di Greenland menggarisbawahi bahwa meskipun tidak ada konfrontasi langsung, pencegahan yang kredibel bisa sangat efektif dalam membentuk perilaku internasional.