Investigasi militer AS baru-baru ini mengungkapkan bahwa serangan pada hari pertama perang Iran mengakibatkan kematian sekitar 200 anak. Insiden yang terjadi di sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, menimbulkan pertanyaan serius mengenai keakuratan penargetan dan protokol perlindungan sipil selama konflik.
Insiden dan Bukti
Setidaknya 175 orang, sebagian besar adalah anak-anak di bawah usia 12 tahun, tewas ketika serangan terjadi di sekolah pada Sabtu dini hari. Waktu terjadinya serangan bertepatan dengan hari kerja di Iran pada hari Sabtu, yang berarti para pelajar juga hadir. Laporan saksi mata dan rekaman video yang terverifikasi menunjukkan bahwa rudal Tomahawk buatan AS menyerang di dekat sekolah, dengan puing-puing yang tampaknya mengkonfirmasi asal usul senjata tersebut. Meskipun klaim awal menunjukkan potensi keterlibatan Iran, bukti kini secara pasti menunjukkan adanya serangan AS.
Faktor-Faktor yang Berkontribusi dan Kelemahan Sistemik
Serangan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh kesalahan manusia dan ditambah dengan data penargetan yang sudah ketinggalan zaman. Sekolah tersebut terletak di dekat gedung angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam, tetapi sebelumnya merupakan bagian dari kampus yang sama. Kedekatan ini mungkin menyebabkan kesalahan identifikasi atau penilaian risiko yang tidak memadai.
Yang lebih memprihatinkan adalah pemerintahan Trump telah membongkar program-program utama mitigasi kerugian sipil, termasuk Pusat Keunggulan Perlindungan Sipil. Keputusan ini, seperti dilansir ProPublica, menghilangkan lapisan pengawasan penting yang bisa mencegah jatuhnya korban sipil. Para ahli berpendapat bahwa rencana Mitigasi dan Respons Bahaya Sipil (CHMR) yang aktif dapat mengubah hasil yang dicapai.
Implikasi yang Lebih Luas
Insiden ini menggarisbawahi peningkatan risiko tragedi yang bisa dicegah dalam peperangan modern. Pengabaian pemerintah terhadap “aturan keterlibatan yang bodoh” dan fokus pada “hal yang mematikan” dibandingkan perlindungan warga sipil menimbulkan kekhawatiran etika dan strategis yang serius.
Implikasi jangka panjangnya tidak hanya menimbulkan korban jiwa. Hilangnya upaya perlindungan sipil tidak hanya membahayakan non-kombatan namun juga melemahkan legitimasi operasi militer dan memperburuk ketidakstabilan regional.
Penghapusan perlindungan terhadap kematian warga sipil meningkatkan kemungkinan kesalahan di masa depan, sehingga semakin mengaburkan batas antara penargetan yang disengaja dan kerusakan tambahan yang tidak dapat diterima.
Pemogokan ini menjadi pengingat yang jelas bahwa tindakan militer, bahkan ketika dilakukan dengan kedok kebutuhan strategis, akan menimbulkan kerugian besar bagi manusia. Temuan penyelidikan ini menuntut akuntabilitas dan penilaian ulang terhadap protokol perlindungan sipil untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.





























