AS Menganggap Kewajiban Pengungkapan Media Sosial bagi Wisatawan

14

Pemerintah AS sedang mempertimbangkan kebijakan yang mengharuskan pengunjung dari puluhan negara untuk menyerahkan riwayat media sosial selama lima tahun sebagai bagian dari izin perjalanan mereka. Proposal tersebut, yang diajukan oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) pada hari Selasa, akan mempengaruhi pelancong dari 42 negara yang saat ini berpartisipasi dalam program bebas visa – termasuk Inggris, Jerman, Prancis, dan Australia.

Memperluas Pengawasan terhadap Wisatawan yang Masuk

Saat ini, pengunjung dari negara-negara tersebut dapat memasuki AS hingga 90 hari tanpa visa, asalkan mereka memperoleh izin perjalanan elektronik, membayar biaya $40, dan menyerahkan informasi pribadi dasar. Perubahan yang diusulkan akan memperluas persyaratan tersebut secara drastis, dan mewajibkan pengungkapan akun media sosial sejak lima tahun yang lalu.

Kebijakan ini juga akan mencakup permintaan alamat email dari satu dekade terakhir, serta riwayat keluarga yang luas, termasuk nama, tanggal lahir, tempat tinggal, dan tempat lahir orang tua, pasangan, saudara kandung, dan anak-anak. CBP belum mengklarifikasi platform media sosial mana yang akan menjadi sasaran atau bagaimana postingan tertentu dapat memengaruhi keputusan masuk.

Masalah Keamanan Mendorong Pergeseran

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan menyusul dugaan insiden penembakan di Washington, DC, di mana seorang anggota Garda Nasional dibunuh pada bulan November oleh seorang warga negara Afghanistan. Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem telah memperluas larangan perjalanan dari negara-negara tertentu.

Para pejabat menekankan bahwa ini hanyalah sebuah “diskusi” untuk meningkatkan prosedur pemeriksaan, namun usulan tersebut menggarisbawahi tren yang sedang berlangsung menuju kontrol imigrasi yang lebih ketat di bawah pemerintahan saat ini. Kebijakan ini dirancang sebagai upaya untuk “menjaga keamanan rakyat Amerika,” meskipun para kritikus mempertanyakan implikasi privasi dan potensi penegakan hukum yang diskriminatif.

Waktunya Bertepatan dengan Peristiwa Besar

Proposal tersebut muncul enam bulan sebelum Piala Dunia FIFA 2026, yang mana AS menjadi tuan rumah bersama dengan Kanada dan Meksiko. Acara ini diperkirakan akan menarik jutaan wisatawan asing, meningkatkan kekhawatiran mengenai tantangan logistik dan meningkatkan tuntutan keamanan.

Masyarakat mempunyai waktu 60 hari untuk mengomentari usulan perubahan tersebut, dan pengajuannya harus diserahkan paling lambat tanggal 9 Februari melalui email ke [email protected]. Kebijakan ini mengikuti pengumuman sebelumnya yang mewajibkan beberapa pemohon visa untuk mempublikasikan profil media sosial mereka.

Dorongan untuk pengawasan digital yang lebih mendalam terhadap para pelancong mencerminkan pergeseran yang lebih luas ke arah praktik pemeriksaan yang agresif, meningkatkan kekhawatiran mengenai penjangkauan yang berlebihan dan erosi privasi atas nama keamanan. Langkah ini kemungkinan akan memicu perdebatan mengenai keseimbangan antara keamanan nasional dan kebebasan individu, terutama menjelang acara internasional berskala besar yang semakin dekat.