Kolaborasi ambisius antara Sony dan Honda untuk mengembangkan kendaraan listrik dengan merek “Afeela” telah berakhir, menandai kemunduran yang signifikan bagi upaya kedua perusahaan dalam terjun ke sektor otomotif. Keputusan tersebut menyusul pengumuman Honda baru-baru ini untuk membatalkan tiga kendaraan listrik yang direncanakan untuk pasar AS, dengan alasan tekanan ekonomi dan perubahan kondisi pasar.
Pergeseran Strategi Honda dan Dampaknya
Honda mengaitkan kemundurannya dengan meningkatnya persaingan dari produsen kendaraan listrik Tiongkok dan ancaman kenaikan tarif di bawah kemungkinan pemerintahan Trump yang kedua. Perubahan strategi yang tiba-tiba ini secara langsung melemahkan perusahaan patungan Sony Honda Mobility (SHM), karena mereka mengandalkan teknologi dan kemampuan manufaktur Honda untuk mewujudkan sedan dan SUV Afeela. Sedan Afeela 1 yang direncanakan, awalnya dijadwalkan untuk dirilis tahun ini, diperkirakan memiliki harga awal sekitar $90.000.
Visi yang Gagal? Dari Prototipe hingga Pembatalan
Sony pertama kali menunjukkan ambisi otomotifnya di Consumer Electronics Show 2020 dengan kendaraan konsep Vision-S. Prototipe ini memamerkan teknologi hiburan dan sensor Sony, menampilkan tampilan dasbor yang imersif, sistem audio canggih, dan rangkaian sensor yang komprehensif. Meskipun awalnya disajikan sebagai pameran teknologi, kendaraan ini mendapat perhatian yang tidak terduga, sehingga mendorong Sony dan Honda untuk meresmikan kemitraan pada tahun 2022. Merek Afeela diperkenalkan pada tahun 2023, namun usaha tersebut pada akhirnya gagal mengatasi tantangan pasar kendaraan listrik yang berkembang pesat.
Lanskap EV yang Penuh Gejolak
Pasar kendaraan listrik telah mengalami transformasi dramatis sejak awal masuknya Sony. Insentif pemerintah telah berkurang, sementara persaingan semakin ketat. Beberapa perusahaan rintisan (startup) kendaraan listrik telah bangkrut, dan pembuat mobil mapan telah menunda atau membatalkan proyek kendaraan listrik mereka sendiri. Lingkungan yang bergejolak ini, ditambah dengan hambatan ekonomi, membuat posisi kemewahan Afeela semakin tidak dapat dipertahankan. Usaha patungan ini memasuki pasar yang sudah jenuh dengan pesaing kelas atas seperti Rivian dan Lucid Motors, sehingga sulit untuk membangun proposisi nilai yang unik.
Ketidakpastian untuk Masa Depan
Nasib SHM dan karyawannya masih belum jelas. Perusahaan telah menyatakan bahwa mereka akan menilai kembali arah masa depan mereka melalui kerja sama dengan Sony dan Honda, namun belum ada rencana konkrit yang diumumkan. Runtuhnya usaha ini menggarisbawahi sulitnya memasuki industri otomotif, bahkan bagi konglomerat yang mempunyai dana besar.
Kegagalan proyek Afeela menyoroti kenyataan pahit di pasar kendaraan listrik: pergeseran lanskap politik, persaingan yang ketat, dan perlunya strategi jangka panjang yang berkelanjutan di luar ekspektasi awal. Eksperimen ini menjadi peringatan bagi perusahaan teknologi lain yang mempertimbangkan untuk beralih ke manufaktur otomotif.
