OpenAI, pengembang di balik ChatGPT, telah secara resmi menangguhkan rencananya untuk membangun infrastruktur pusat data besar di Inggris. Perusahaan menyebutkan biaya energi yang mahal dan kompleksitas peraturan sebagai hambatan utama yang menghalangi investasi skala besar yang diperlukan untuk inisiatif “Stargate”.
Inisiatif Stargate di Inggris
Proyek yang diusulkan ini dimaksudkan untuk membangun pusat infrastruktur AI yang besar di dalam “zona pertumbuhan AI” yang baru ditetapkan di Inggris Timur Laut. Rencananya melibatkan pemanfaatan beberapa lokasi, khususnya menargetkan Cobalt Park dekat Newcastle dan kota Blyth.
Meskipun proyek “Stargate” adalah proyek global—yang didukung oleh koalisi yang mencakup SoftBank, Oracle, MGX, Nvidia, dan Microsoft—proyek di Inggris dimaksudkan untuk menjadi landasan ambisi Inggris untuk menjadi pemimpin AI global.
Hambatan Investasi
Keputusan OpenAI untuk melakukan “jeda” menyoroti meningkatnya ketegangan antara ambisi industri teknologi dan realitas ekonomi pasar Inggris. Perusahaan mengidentifikasi dua “kondisi” penting yang harus diubah sebelum dapat dilanjutkan:
- Volatilitas Energi: Pusat data sangat boros energi. OpenAI mencatat bahwa biaya listrik saat ini membuat investasi infrastruktur jangka panjang menjadi tidak layak. Kerentanan ini diperburuk oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi global.
- Lingkungan Peraturan: Perusahaan memberi isyarat bahwa lanskap peraturan saat ini harus lebih kondusif bagi proyek infrastruktur berskala besar dan berjangka panjang.
“Kami melihat potensi besar bagi masa depan AI di Inggris… Kami akan bergerak maju ketika kondisi yang tepat seperti regulasi dan biaya energi memungkinkan investasi infrastruktur jangka panjang.” — Juru Bicara OpenAI
Mengapa Ini Penting: Sambungan Energi
Jeda ini merupakan indikator signifikan dari tantangan struktural perekonomian Inggris. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Inggris sangat rentan terhadap lonjakan harga grosir energi karena ketergantungan yang besar pada pembangkit listrik berbahan bakar gas.
Berbeda dengan negara-negara yang memiliki jaringan nuklir atau energi terbarukan yang lebih kuat, ketergantungan Inggris pada gas berarti ketidakstabilan geopolitik berdampak langsung pada biaya pengoperasian fasilitas dengan permintaan tinggi seperti pusat data AI. Bagi perusahaan seperti OpenAI, yang memerlukan daya listrik yang besar, konsisten, dan relatif terjangkau untuk menjalankan modelnya, fluktuasi harga ini mewakili risiko finansial yang sangat besar.
Implikasi Politik dan Ekonomi
Kemunduran ini terjadi meskipun terdapat upaya diplomasi yang signifikan untuk memposisikan Inggris sebagai pusat teknologi. September lalu, kesepakatan penting antara AS dan Inggris mencakup janji $30 miliar (£22,3 miliar) dari Microsoft untuk memperluas infrastruktur AI Inggris.
Namun, penarikan rencana OpenAI dalam waktu dekat telah menuai kritik politik. Ben Spencer, anggota parlemen Konservatif dan menteri bayangan ilmu pengetahuan, berargumen bahwa langkah tersebut mencerminkan kegagalan untuk mengatasi “dasar-dasar” investasi—khususnya energi dan kepastian peraturan—dan bukan sekadar mengejar “berita utama teknologi besar”.
Status Saat Ini
Meskipun proyek infrastruktur fisik ditunda, OpenAI tidak sepenuhnya keluar dari Inggris. Perusahaan mengonfirmasi akan terus:
– Berinvestasi pada talenta lokal dan perluas kehadiran penelitiannya.
– Memenuhi komitmen yang ada berdasarkan Nota Kesepahaman (MOU) dengan Pemerintah Inggris untuk mengintegrasikan “frontier AI” ke dalam layanan publik.
Kesimpulan
Keputusan OpenAI untuk menghentikan proyek pusat datanya di Inggris merupakan peringatan bahwa ambisi teknologi tidak dapat mengatasi tingginya biaya energi dan ketidakpastian peraturan. Agar Inggris dapat mewujudkan tujuannya menjadi negara adidaya AI, Inggris harus mengatasi kerentanan energi mendasar yang membuat komputasi skala besar terlalu mahal untuk dipertahankan.
