Meta, perusahaan induk Facebook, sedang bersiap menghadapi PHK besar-besaran—yang berpotensi berdampak pada 16.000 karyawan—seiring dengan agresifnya mengalihkan sumber daya ke arah pengembangan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini menandakan tren yang lebih luas: perusahaan semakin banyak menggunakan AI tidak hanya untuk berinovasi, namun juga untuk merestrukturisasi tenaga kerja dan memangkas biaya.
Riwayat dan Skala PHK Terkini
Jika terkonfirmasi, putaran pemotongan ini akan menjadi yang paling signifikan bagi Meta sejak tahun 2022, ketika Meta menghilangkan 11.000 posisi. 10.000 pekerjaan lainnya diberhentikan pada tahun berikutnya. Rencana yang dilaporkan, menurut sumber Business Insider, dapat berlaku dalam waktu satu bulan. Pengurangan ini bukanlah kejadian yang terisolasi.
Dorongan Investasi AI
Meta telah secara terbuka berkomitmen untuk menginvestasikan sekitar $600 miliar pada infrastruktur AI dan pusat data pada tahun 2028. Hal ini termasuk pengeluaran yang signifikan untuk menarik peneliti AI terkemuka ke tim superintelligencenya. Dalam laporan pendapatan baru-baru ini, CEO Mark Zuckerberg menekankan strategi perampingan operasi, dengan menyatakan bahwa proyek yang sebelumnya membutuhkan tim besar kini dapat diselesaikan oleh “satu orang yang sangat berbakat.” Hal ini menggambarkan pergeseran mendasar dalam cara Meta memandang tenaga kerja manusia versus efisiensi AI.
Perampingan Blok yang Didorong oleh AI
Meta tidak sendirian. Blok Jack Dorsey (Square, Cash App, Tidal) memangkas lebih dari 4.000 pekerjaan pada bulan Februari, secara terbuka menyebut AI sebagai pendorong utama. CFO Amrita Ahuja menyatakan bahwa pemotongan ini akan memungkinkan perusahaan untuk “bergerak lebih cepat dengan tim yang lebih kecil dan bertalenta menggunakan AI untuk mengotomatisasi lebih banyak pekerjaan.” Trennya jelas: perusahaan secara aktif mengurangi jumlah karyawan dengan mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja yang ada.
Skeptisisme dan “Pencucian AI”
Beberapa pemimpin industri, termasuk CEO OpenAI Sam Altman, berpendapat bahwa AI digunakan sebagai pembenaran yang tepat untuk melakukan perampingan pascapandemi. Kritikus menyebut praktik ini sebagai “pencucian AI”, di mana perusahaan menggunakan narasi otomatisasi AI untuk menutupi tindakan pemotongan biaya yang lebih luas. Baik peningkatan efisiensi atau restrukturisasi strategis, dampaknya terhadap angkatan kerja tidak dapat disangkal.
Percepatan integrasi AI yang pesat memaksa perusahaan untuk memikirkan kembali kebutuhan tenaga kerja mereka, sehingga menyebabkan gelombang PHK dan penekanan baru pada tim yang sangat terampil dan ditambah dengan AI. Tren ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan dunia kerja dan apakah pemotongan ini merupakan kemajuan nyata atau sekadar restrukturisasi yang mendukung otomatisasi.
